Rabu, 06 Oktober 2021

Sistem Artikula dalam Bahasa Inggris: Sebuah Pengantar

Pendahuluan


Artikula, atau dalam bahasa Indonesia kata sandang, adalah elemen yang menurut sebagian pelajar tidak terlalu penting karena diajarkan terlebih dahulu dan dilakukan kala kita kecil,  namun penggunaan yang salah memengaruhi keterbacaan teks secara keseluruhan. Artikula ini menunjukkan kemahiran kita dalam berbahasa Inggris, apalagi saat menulis teks hasil penelitian atau abstrak. Pelajar yang tidak memiliki artikula dalam bahasanya akan kesulitan untuk mempelajari artikula dalam bahasa Inggris, dan kesulitan sedikit lebih rendah untuk pelajar yang bahasa ibunya menggunakan artikula seperti bahasa Jerman, Belanda, atau Spanyol. Informasi tentang artikula bahasa Inggris di internet dalam bahasa Indonesia masih terasa kurang lengkap, walaupun ada beberapa bidang yang telah dijelaskan dengan sederhana, misal pada pengacuan dasar dan beberapa penggunaan pada nomina nama jenis. Perlunya pembahasan mengenai artikula dalam bahasa Inggris yang lebih lengkap membuat saya tergugah untuk merangkum aturan-aturan yang mendetil dari berbagai buku dan jurnal bahasa Inggris yang saya temukan di internet dan menuliskannya di sini. Saya akan memberi pendahuluannnya terlebih dulu dalam laman ini sebelum menuju ke daftar aturannya pada Artikel (a, an, the, dan artikel nol) (Pemutakhiran: 22 Agustus 2021).

Kesalahan penggunaan artikula bahasa inggris pada pelajar dan mahasiswa di Indonesia dan Mancanegara: Data Berbicara

Beberapa penelitian, dalam negara hingga mancanegara, telah dilakukan untuk menganalisis kesalahan penggunaan artikula pada siswa, mahasisa, dan pelajar bahasa Inggris yang sudah tidak bersekolah lagi dalam berbagai jenis teks. Ini datanya.

1. (Swasti, 2016, pp. 30–36). Penelitian dilakukan pada siswa kelas 10 MIA SMAN 1 Binangun, Cilacap terhadap 32 siswa dengan 135,09 kesalahan ternormalisasi per 109 kata dan 137 kesalahan terhadap jumlah kata total 3.848.

Kesalahan adalah artikula yang diberikan pada teks, dan Untuk adalah artikula yang benar.

Kesalahan/Untuk

Artikula Nol

Artikula Taktakrif vokal (an)

Artikula Taktakrif Konsonan (a)

Artikula Takrif (the)

Artikula Nol

-

22,19%

4,41%

Artikula Taktakrif Vokal (an)

61,51%

< 2% (tertukar)

2,23%

Artikula taktakrif konsonan (a)

Artikula Takrif

4,65%

5%

-

2. (Sholihatun, 2017) dari 105 kesalahan. Penelitian dilakukan di SMP Nurul Iman Palembang.

Kesalahan/Untuk

Artikula Nol

Artikula Taktakrif vokal (an)

Artikula Taktakrif Konsonan (a)

Artikula Takrif (the)

Artikula Nol

-

46,87%

12,5%

40,62%

Artikula Taktakrif Vokal (an)

76,92%

9,52%

33,33%

57,14%

Artikula taktakrif konsonan (a)

11,53%

Artikula Takrif

11,53%

 

3. (Yuliawati, Lilik; Aprilia; Andayani, 2020) dari 92 kesalahan dalam soal yang berisi 30 soal pilihan ganda dan 10 soal isi-yang-kosong. Penelitian dilakukan di Universitas Bina Sarana Informatika jurusan Ilmu Komunikasi.

Kesalahan/Untuk

Artikula Nol

Artikula Taktakrif vokal (an)

Artikula Taktakrif Konsonan (a)

Artikula Takrif (the)

Artikula Nol

-

26%

Artikula Taktakrif Vokal (an)

41%

24% kesalahan karena tertukar dan 9% kesalahan susunan

Artikula taktakrif konsonan (a)

Artikula Takrif

 

4. (Nopjirapong, 2011). Penelitian dilakukan pada 20 mahasiswa tahun kedua Fakultas Humaniora, Universitas Srinakharinwot. Terdapat 19 kelompok kesalahan yang diuraikan dengan total 403 kesalahan terjadi. Namun, karena kategori ‘penentu kepemilikan daripada the’ diabaikan, maka menjadi 383 kesalahan.

Kesalahan/Untuk

Artikula Nol

Artikula Taktakrif vokal (an)

Artikula Taktakrif Konsonan (a)

Artikula Takrif (the)

Artikula Nol

-

12 kesalahan

83 kesalahan

Artikula Taktakrif Vokal (an)

68 kesalahan

-

 

-

Artikula taktakrif konsonan (a)

 

-

35 kesalahan

Artikula Takrif

175 kesalahan

10 kesalahan

-

 Dari literatur-literatur di atas, bisa disimpulkan tiga poin sebagai berikut

1) Kesalahan terbanyak lebih condong kepada penghilangan artikula yang benar atau penambahan artikula yang salah.

2) Kesalahan yang diakibatkan karena tertukarnya artikula adalah kesalahan terendah.

3) Kesalahan diakibatkan oleh ketidaktahuan penulis mengenai cara penggunaan artikel yang benar atau abai terhadap penggunaan artikel itu sendiri.

Apa itu artikula?


Dalam bahasa Inggris, terdapat tiga jenis penentu. Ketiga kelas ini diatur berdasarkan dimana posisinya pada suatu frasa nomina. Artikula termasuk dalam penentu tengah (central determiner) karena letaknya yang kebanyakan di tengah kalimat. Artikula diberikan di depan kata benda atau suatu frasa nomina. Artikula, atau yang umumnya ditemui sebagai artikel, adalah suatu penanda ketakrifan suatu kata benda. Ketakrifan menyatakan apakah suatu benda bersifat spesifik atau umum. Namun, artikula juga ditambahkan secara konvensi dengan berdasarkan aturan-aturan tersendiri, di luar aturan status ketakrifan. Artikula dengan aturan konvensi ini paling banyak dialami pada kata benda berjenis nama diri daripada nama jenis. Artikula terdiri dari tiga jenis, yaitu artikula takrif the, artikula taktakrif a/an, dan artikula nol.

Artikula penentu ketakrifan: penjelasan sederhana

Artikula penentu ketakrifan ada dua, yaitu artikel taktakrif a/an dan artikel takrif the. Penggunaan artikula sangat tergantung terhadap keadaan kata benda dari acuan yang dibuat dengan kata benda. Aturan penentu ketakrifan dibagi menjadi aturan penggunaan untuk acuan spesifik, acuan sporadik (hampir taktakrif), dan acuan general (umum). Aturan spesifik digunakan ketika kata benda telah disebutkan dan ingin dimunculkan kembali, kata benda disebutkan dengan acuan tidak langsung, atau acuan yang tunggal. Acuan sporadik menceritakan kesan idiomatis tentang konvensi suatu nama jenis, misal penggunaan kata benda tersebut untuk menjelaskan fungsinya daripada menunjuk suatu tempat definitif sebagai acuan. Acuan umum digunakan untuk mengacu terhadap suatu kelompok barang atau orang yang diejawantahkan oleh nomina jenis atau nomina. Aturan acuan umum menyatakan anggota-anggota sebagai satu kelompok utuh,  bukan per individu, sehingga banyak diaplikasikan ketika akan menyebutkan, misal, kebiasaan suatu suku sebagai informasi umum seperti The Welsh are fond of singing

Aturan penggunaan artikula secara konvensi

Aturan konvensi dalam penggunaan artikula di sini sangat bergantung dari kata benda secara spesifik. Ada kata-kata benda yang harus diberi artikula tak takrif, ada yang boleh diberi artikula, dan ada yang tidak boleh diberi artikula. Aturan ini juga berlaku dalam struktur-struktur kalimat tertentu, seperti idiom, konstruksi dengan so ... (that), konstruksi nomina paralel (hand by hand), dan lain sebagainya. Aturan inilah yang paling luas cakupannya dan banyak pengecualiannya walaupun berada dalam topik yang sama, misalkan nama gunung, yang terkadang ada yang diberi artikula dan ada yang tidak. 

Ada beberapa hasil penelitian yang dilakukan berdasarkan korpus yang menyatakan bahwa di sini adalah letak ketidaklengkapan gramatikalisasi terjadi. Ketidaklengkapan gramatikalisasi adalah suatu fenomena ketika suatu item gramatikal tidak dapat maju ke tingkat selanjutnya karena ketidaklengkapan aplikasi di suatu persyaratan. Itulah sebabnya mengapa aturan artikula secara konvensi tidak menjelaskan secara rinci kenapa artikula takrif dipakai di depan the Himalayas tapi tidak dipakai di depan Everest. Sehingga, perlu pemerian yang detil tentang mana nama diri atau nama jenis yang dapat atau tidak diberi artikula di depannya. 

Artikula nol?

Artikula nol, apabila ditilik dari beberapa sumber yang saya baca, memiliki dua definisi yang berbeda dan berkembang secara terpisah. Definisi artikula nol menurut Berezowski (2009) dan Pullum (2002) adalah bare noun phrase, yaitu suatu nomina yang tidak diberi artikula karena pada frasa benda tersebut tidak sesuai apabila diberi artikula. Sedangkan menurut Master (2003)), artikula nol adalah artikula tidak terlihat yang diberikan untuk dua macam kata benda, yaitu kata benda yang paling takrif (lunch) dan kata benda yang paling tidak takrif. 

Definisi bare noun phrase dari Berezowski (2009) didasari oleh penelitiannya yang tertuang dalam bukunya yang berjudul The Myth of Zero Article. Buku tersebut merunut terbentuknya sebuah artikula dan tingkatan-tingkatan pengembangannya dalam penggunaan lewat istilah yang disebut dengan gramatikalisasi. Menurutnya, artikula nol bukanlah sebuah artikula, namun merupakan keadaan dimana artikula takrif dan taktakrif tidak bisa diberikan karena fungsinya yang memang belum menjamah situasi nomina tersebut misalnya pada benda tak terhitung sugar. Sugar tidak diberi artikel karena kata benda ini disebut sebagai mass noun, kata berjenis ini menyatakan segumpalan benda yang terdiri dari bagian-bagian yang sangat kecil namun dianggap sebagai satu kesatuan karena tidak dapat dihitung satu per satu. Artikula taktakrif a tidak dapat diberikan karena fungsinya hanya pada nomina tunggal terhitung, dan the tidak dapat diberikan karena sugar adalah acuan general dan the dipakai paling banyak untuk acuan spesifik.

Peter Master (2003) meneruskan definisi Chesterman (1991) dan penelitian terdahulunya, Master (1997),The English Article System: Acquisition, Function, and Pedagogy yang menyebutkan bahwa ada dua jenis artikula nol, yaitu artikula nol satu yang dipakai untuk nomina yang paling tidak takrif dan artikula null (artikula nol dua) yang dipakai untuk nomina yang paling takrif. Artikula nol satu dipakai pada konteks benda mass noun, kata benda abstrak, keambiguan yang disengaja, dan nomina yang diperlakukan sebagai kata sifat. Artikula null (artikula nol dua) dipakai untuk nomina nama diri, pangkat, posisi, dan jabatan, dan pada nomina yang konteksnya, menurut pembicara dan pendengar sudah cukup awam sehingga the tidak diperlukan. Ini adalah perluasan dari penggunaan artikula takrif the bagian penggunaan sporadis. Keawaman ini mencakup tempat, waktu, dan nomina berpasangan yang digabung dengan and (contoh: brother and sister were inseparable).

Kesimpulan

Artikula merupakan item gramatikal yang sangat berpengaruh terhadap keterbacaan teks. Penelitian tentang analisis kesalahan dalam penggunaan artikula sudah banyak dilakukan di Indonesia maupun mancanegara. Walaupun terlihat sepele, aturan penggunaan artikel sangat banyak. Kontribusi banyaknya aturan lebih banyak dilakukan oleh aturan konvensi daripada aturan-aturan pengacuan. Oleh karena itu, ketika sudah mahir berbahasa Inggris, kita perlu mempelajari kembali aturan-aturan ini secara lebih komprehensif dan, sebagai dampaknya, menyediakan teks yang lebih rinci tentang itu.

Daftar Pustaka

Berezowski, L. (2009). The myth of the zero article. Bloomsbury Publishing.

Master, P. (1997). The english article system: Acquisition, function, and pedagogy. System, 25(2), 215–232. https://doi.org/10.1016/S0346-251X(97)00010-9

Master, P. (2003). Acquisition of the Zero and Null Articles in English. Issues in Applied Linguistics, 14(1), 3–20. https://doi.org/10.5070/l4141005068

Nopjirapong, R. (2011). An Analysis of Article Errors in Thai University Students’ Composition (Issue May). Srinakharinwirot University.

Sholihatun. (2017). an Error Analysis on the Use of English Article in Descriptive Texts Written By the Eighth Grade Students of Smp Nurul Iman Palembang. State Islamic University Raden Fatah Palembang.

Swasti, S. B. (2016). An Error Analysis on the Use of English Articles in Students’ Written Descriptive Texts (A Case of Class X MIA 1 of SMA N 1 Binangun, Cilacap in the Academic Year 2014/2015) [Semarang State University]. https://doi.org/10.15294/elt.v5i1.9872

Yuliawati, Lilik; Aprilia; Andayani, E. S. (2020). Type of Error on Articles in Students’ Writing. Visi Ilmu Sosial Dan Humaniora, 1(2), 86–95.